Stupa Sumberawan, Wisata Purbakala di Kabupaten Malang

candi sumberawanKali ini penulis akan mengajak kamu berwisata dan mengenal peninggalan situs purbakala “Stupa Sumberawan” yang berada di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Lokasi Stupa Sumberawan terletak di barat laut Kota Kecamatan Singosari, tepatnya di Desa Sumberawan. Secara geografis Stupa ini berada diketinggian 650 meter dari permukaan laut (Mdpl). Udara disekitar cukup sejuk karena lokasi Stupa berada di kaki Gunung Arjuna yang dikelilingi hutan pinus. Selain itu, diarea Stupa ini juga terdapat telaga yang airnya cukup jernih. Air ini dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum yang dikelola oleh Pemda Kabupaten Malang dan sebagian lainya digunakan untuk mengairi sawah-sawah penduduk.

Stupa Sumberawan pertama kali ditemukan oleh penduduk sekitar yang kemudian melaporkanya ke pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1904. Stupa ini ditemukan dalam keadaan rusak dan sebagian terkubur. Setelah 24 tahun, tepatnya pada tahun 1928 Stupa ini mendapat perhatian dan ditinjau untuk diadakan perbaikan kembali oleh pemerintah Belanda yang dipimpin seorang ahli purbakala bernama Ir. Van Romondt. Perencanaan dan pembagunan kembali Stupa Sumberawan akhirnya dijalankan dan selesai pada tahun 1937.

Nama Stupa Sumberawan sendiri diambil dari nama desa tempat stupa itu berada, yaitu Desa Sumberawan. Sedangkan nama Sumberawan berasal dari kata sumber dan rawan (telaga). Karena di desa ini, terdapat sumber mata air besar yang membentuk Rawan (Telaga).

Stupa adalah bagunan yang bebentuk kubah segi empat yang diatasnya terdapat payung (tanda kehormatan / lambang kayangan). Bentuk payung itu terkadang terbuka tetapi kebanyakan tertutup. Dalam perkembanganya Stupa mempunyai empat fungsi, yaitu

  1. Sebagai penyimpanan tulang belulang atau abu jenazah dari sang Budha, Arhat atau Bhiksu. Stupa ini disebut DHATUGARBHA (DAGOBA).
  2. Sebagai tempat penyimpanan benda – benda suci yang berasal dari diri sang Budha atau Arhat dan Bikhsu. Benda seperti ini disebut Reliq (Misalnya: kuku, rambut, jubah dll).
  3. Sebagai tanda peringatan ditempat – tempat terjadinya suatu peristiwa penting dalam hidup sang Budha.
  4. Sebagai lambang suci umat Budha pada umunya, dan hal ini bagi penganut Budha dianggap sebagai monumen yang bertuah / berkekuatan gaib. yang biasanya digunakan untuk beribadah, bersemedi.

Lalu apa fungsi Stupa Sumberawan?! Jika dilihat dari struktur bagunan, sangat tidak mungkin jika Stupa Sumberawan difungsikan sebagai Dagoba atau sebagai tempat penyimpanan benda-benda suci, karena bagunan Stupa Sumberawan tidak memiliki rongga, atau tempat penyimpanan baik ditubuh bagunan maupun dibawah tanah. Kemudian jika fungsi Stupa ini diakaitkan dengan dengan tanda atau peringatan peristiwa penting yang menyangkut sang Budha pun juga jauh dari logika, karena peristiwa kejadian yang berkaitan dengan sang Budha tempatnya di India.

Berdasarkan uraian diatas tentang empat fungsi Stupa, dapat ditarik kesimpulan bahwa fungsi yang mendekati analisa positif terkait fungsi Stupa Sumberawan adalah fungsi keempat, yaitu “Merupakan monumen lambang agama Budha yang dipersonifikasikan sebagai lambang Kahyangan” (Gunung Meru).

Letak sumber air (telaga) Sumberawan memiliki peran penting terhadap keberadaan Stupa Sumberawan. Dalam kepercayaan Hindu dan Budha salah satu unsur yang dianggap suci selain api dan tanah adalah air (Amerta). Kepercayaan ini bersifat religius magis (kepercayaan yang berhubungan dengan kekuatan gaib). maka tidak jarang jika air dipandang sebagai sesuatu yang suci dan sakral. Dalam Mitologi Hindu dan Budha, Amerta adalah air suci minuman para dewa yang dipercaya dapat mendatangkan berkah bagi siapa saja yang meminumnya.

Untuk merubah air telaga menjadi Amerta perlu adanya alat transformasi yang menjadikan air biasa mejadi Amerta. Perubahan yang dimaksut bukanlah perubahan dalam bentuk fisik, warna atau bau air, melainkan perubahan sifatnya sesuai keyakinan umat Hindu dan Budha. Oleh sebab itu maka dibagunlah sebuah bagungan suci (Stupa Sumberawan) sebagai media tranformasi untuk melakukan perubahan sifat air tersebut.

Perlu dicatat sekitar abad XIII perpaduan dua agama antara Hindu dan Budha bukan merupakan sesuatu yang berdiri sendiri, karena saat itu terjadi percampuran agama yang membuat tidak adanya batas yang jelas antara Hindu dan Budha. Siwa adalah Budha dan Budha adalah Siwa. Oleh karenaya kita tidak perlu mengikat diri kepada suatu aturan, ini untuk Hindu atau itu untuk Budha. Misalnya, konsep Amerta dan Gunung Meru adalah konsep Hindu dan bukan merupakan konsep Budha sedangkan Stupa Sumberawan jelas adalah bagunan agama Budha.

Kapan Stupa Sumberawan dibuat?! Tidak ada catatan atau literature yang jelas tentang kapan Stupa Sumberawan ini dibagun, namun para ahli menduga jika bagunan ini dibagun sekitar abad ke XIV. Bahkan ada yang menduga bahwa daerah ini dahulunya yang bernama “Kasurangganan”, yaitu daerah yang pernah dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk pada tahun 1359 ketika ia pergi ke Singasari. Ini diceritakan dalam kitab “Negarakertagama” yang dikarang oleh Empu Prapanca pada pupuh 35 bait ke 4, yaitu :

…….. sebabnya terburu – buru berangkat, setelah dijamu bapa asrama karena ingat akan giliran menghadap di balaikota singasari sehabis menyekar di candi makam, nafsu kesukaan bermanja-manja mengisap sari pemandangan di Kedungbiru Kasurangganan dan Bureng”

Penamaan Kasurangganan yang diidentikan dengan daerah Sumberawan sekarang karena daerah yang disebut diatas yaitu kedungbiru dan Bureng masing-masing terletak di selatan daerah Sumberawan. Kedungbiru sekarang berubah menjadi Dukuh mbiru, sedangkan Bureng diduga berada disebelah utara desa Karangploso.

Bagaimana apa kamu tertatik berwisata ke situs purbakala Stupa Sumberawan? Jika iya, dari kota Malang kamu bisa langsung menuju Singosari (jalur Malang – Surabaya). Sebelum sampai di Pasar Singosari, sebelah kanan jalan terdapat gapura Candi Singosari. Setelah masuk gapura kamu bisa terus mengikuti jalan tersebut, arah menuju desa Sumberawan. Sesampainya dipertigaan, pangkalan ojek di desa Sumberawan belok kiri arah selatan sampai sejauh kurang lebih 400 meter.setelah itu kamu akan menemui aliran sungai kecil, perjalanan sudah cukup dekat, kamu tinggal menyusuri pinggir sungai tersebut sejauh kurang lebih 300 meter kamu akan sampai di Stupa Sumberawan. Suara air, hijau dan rindangya pepohonan disekitar Stupa dan sejuknya udara di lokasi menghilangkan rasa lelah diperjalanan. Selamat Berwisata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s